PEMBERONTAKAN RANGGALAWE (THE END)

Di posting oleh baratketigo pada 06:57 PM, 26-Sep-12

Di: Jejak Sejarah

S
eperti yang telah diceritakan pada Episode yang lalu, bahwa Rakriyan Nambi berhasil menumpas Laskar Pembelot yang akan membantu Pasukan Tuban di sepanjang tepi sungai Tambak Beras. Kabar tentang keberhasilan pasukan Nambi telah pula diterima oleh Sang Prabu Kertarajasa di Majapahit melalui Prajurit Telik Sandi (Prajurit mata - mata). Sementara Nambi dengan pasukannya setelah berhasil menumpas laskar pembelot, mendirikan tenda - tenda peristirahatan menunggu arus sungai yang mulai surut untuk melakukan penyeberangan menyongsong pasukan dari Tuban.

K
ita tinggalkan sejenak Nambi dengan pasukannya yang akan menyambut kedatangan laskar dari Tuban, marilah kita lihat perkembangan Tuban dengan segala persiapannya. Pagi itu Ranggalawe segera mengumpulkan seluruh pasukannya dan bersiap untuk berangkat ke Majapahit. Sang Adipati tampak gagah dengan pakaian perang yang ia gunakan pada waktu itu. Sebelum berangkat, ia memohon doa restu kepada ayahnya Arya Wiraraja dan kedua istrinya serta anak semata wayangnya (Kuda Anjampiani) yang saat itu masih berusia 5 tahun dan dalam gendongan inang pengasuhnya. Sejenak Dewi Martaraga menahan langkah sang Adipati, firasatnya mengatakan bahwa ini adalah pertemuan yang terakhir kali dangan suami tercintanya. Ranggalawe merasakan keharuan meyeruak di rongga dadanya, apalagi jika mengingat putra semata wayang yang sangat dikasihinya. Namun tekadnya sudah bulat, dengan segenap ketegaran, ia kemudian bergegas menaiki kuda kesayangannya (Nila Ambara). Pelan - pelan ia menjalankan kudanya, sementara dibelakangnya barisan Prajurit Tuban mengiringi langkahnya. Diluar regol Kadipaten, ia dicegat oleh ayah mertuanya (Ki Ageng Pelandongan), yang memintanya untuk membatalkan Rencananya. Namun hal itu tidak menggoyahkan tekad Ranggalawe yang memang berwatak keras kepala. Dengan iringan genderang perang disepanjang perjalanan, akhirnya pasukan Tuban berangkat menuju Majapahit.
Berita tentang keberangkatan pasukan Tuban segera diterima oleh Nambi melalui Prajurit Telik Sandi, dan segera ia bersiap menyambut kedatangan pasukan Tuban yang memang telah dinantikannya. Saat itu Sungai Tambak Beras dalam keadaan surut, sehingga Pasukan Majapahit dibawah pimpinan Nambi bisa menyeberang sungai tanpa adanya halangan. Setelah melakukan perjalanan selama dua hari dua malam, akhirnya kedua Pasukan pun bertemu di tepi Sungai tambak Beras. Pertempuran dahsyat segera terjadi, Pasukan Tuban dangan semangat yang makantar - kantar (semangat berapi - api), merangsek fihak Majapahit. Ranggalawe dengan sigap mencari Nambi, saat bertemu mereka pun saling berhadapan. Nambi tampak gagah diatas punggung kudanya (Brahma Cikur), sementara Ranggalawe tidak kalah Perwiranya duduk diatas Punggung Nila Ambara. Perkelahian tidak bisa dielakan, Dalam sekejap saja, Ranggalawe berhasil menikam Brahma Cikur, namun Nambi mampu meloloskan diri. sementara itu pasukan Tuban berhasil membuat Pasukan Majapahit kocar - kacir dan melarikan diri ke seberang sungai. Ranggalawe ingin melakukan pengejaran, tapi ditahan oleh para pengikutnya. Akhirnya mereka pun mendirikan tenda untuk menunggu keesokan harinya.



r.jpg




Kabar tentang kekalahan Pasukan Majapahit saat itu juga diterima oleh Prabu Kertarajasa di Majapahit dan membuat gusar sang Raja, malam itu juga beliau segera mengumpulkan para senapatinya dan melakukan perundingan untuk langkah yang akan diambil selanjutnya.
Keesokan harinya, pasukan Segelar Sepapan telah bersiap di alun - alun Kerajaan dan mulai bergerak menuju Sungai Tambak Beras dibawah Pimpinan Langsung Sang Raja. Sesampainya di tepi sungai, pasukan Majapahit segera mendapat sambutan dari fihak Tuban yang memang sudah bersiap menuggu kedatangan mereka. Pada saat itu Pasukan Majapahit dipecah menjadi tiga bagian untuk mengepung laskar Tuban, dari jurusan Timur dipimpin oleh Mahesa Anabrang, dari jurusan barat dipimpin oleh Gagak Sarkara, dan dari utara dipimpin oleh Majang Mengkar. Sementara itu Lembu Sora diminta sang Raja untuk mendampinginya. Pertempuran sengit pun akhirnya tidak bisa terelakan, kali ini pasukan Tuban benar -benar terkepung rapat. Sementara Ranggalawe berhadapan dengan Mahesa Anabrang perkelahian antara dua orang yang pernah menjadi sahabat ini pun segera terjadi. Kuda Mahesa Anabrang berhasil ditikam, pengendaranya terjatuh tetapi luput dari tikaman. Ranggalawe melakukan pengejaran, perkelahian masih terjadi, dan kali ini Senapati yang pernah dikirim dalam "Ekspedisi Pamalayu" pada jaman "Kertanegara" , Raja terakhir "Singhasari" harus mengakui kegagahan dari Ranggalawe, dengan terpaksa akhirnya ia pun menghindarkan diri lari ke wilayah Majapahit di seberang Sungai. Pertempuran sempat tertunda dengan datangnya sang malam. Sementara itu Ranggalawe terlihat gusar karena belum sempat membinasakan lawan tandingnya.



y.png




P
ada keesokan harinya Pertempuran antara kedua belah fihak pun dilanjutkan kembali. Suasana pagi itu kembali dipecahkan dengan suara dentingan senjata dan teriakan dari mereka yang meregang nyawa. Kembali Ranggalawe berhadapan dengan Mahesa Anabrang. Untuk kedua kalinya mereka bertemu kembali, dan kali ini Mahesa Anabrang sengaja memancing Ranggalawe untuk melakukan duel didalam sungai. Ranggalawe yang memang telah mendendam kepada Mahesa Anabrang tanpa pikir panjang segera mengejar lawan tandingnya. Perkelahian sengit kembali terjadi, mereka bergulat, saling piting, saling cekik, membuat air disekitar tempat mereka bertanding waktu itu muncrat bagai curahan hujan. memang sangat dahsyat perkelahian yang dilakukan kedua orang perwira ini. dilain kejap, Ranggalawe terpeleset dari atas batu cadas tempatnya berpijak, melihat hal ini Mahesa Anabrang tidak menyia - nyiakan kesempatan, segera ia meraih leher Ranggalawe dan ditenggelamkan berulang - ulang. Salah satu keahlian Mahesa Anabrang adalah ia sangat lihai berkelahi dalam air. setelah sekian jurus, tampak air disekitar tempat perkelahian telah menjadi merah karena darah. Ketika kepala Ranggalawe diangkat dari dalam air, dalam posisi terpiting diketiak Mahesa Anabrang, Ranggalawe sudah tidak bernyawa. Tiada tahan Lembu Sora menyaksikan peristiwa yang memilukan tersebut, bagaimana pun Lawe adalah anak Kemenakannya sendiri dan didepan matanya telah disiksa oleh lawan tandingnya. dengan sertamerta ia melompat dari seberang dan menikam Mahesa Anabrang dari belakang. Tusukan Keris Lembu Sora tepat bersarang di belikat tembus sampai ke dada, Mahesa Anabrang jatuh, Mati seketika diatas air, demikianlah Kebo Anabrang dan Ranggalawe terlihat seperti mati sampyuh di seberang sungai Tambak Beras. Peristiwa pembunuhan terhadap Mahesa Anabrang inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Lembu Sora pada Tahun saka 1300 (Korban Konspirasi Politik ke-2 dari Halayuda).

Sementara Laskar Tuban yang menyaksikan pemimpin mereka telah mati, serentak menjadi kehilangan semangat tempurnya. Kesempatan itu tidak di sia - siakan oleh fihak Majapahit, dan belum sampai tengah hari, Pasukan Tuban berhasil ditakhlukkan. Jenasah Ranggalawe dibawa ke Pura Majapahit. Arya Wiraraja, Ki Ageng Pelandongan, kedua istri dan Anaknya Kuda Anjampiani, setelah menerima kabar tentang kematian Ranggalawe segera datang ke Majapahit. Dalam "Kidung Ranggalawe" tercantum bahwa kedua istri Ranggalawe (Dewi Mertaraga dan Dewi Tirtawati) melakukan belasungkawa dengan cara Belapati (ikut mati bersama). Setelah upacara pembakaran jenasah selesai, Arya Wiraraja kembali ke Tuban diiringi Ki Ageng pelandongan dengan membawa Kuda Anjampiani serta abu jenasah ketiga orang yang mereka kasihi untuk disemayamkan. (Tidak tercatat dalam sejarah tempat dimana abu jenasah ketiga orang ini disemayamkan, ada dugaan kuat bahwa abu jenasah ketiganya dilarung di laut Jawa. jadi patut disayangkan apabila sampai saat ini masyarakat Tuban masih mempercayai bahwa makam Ranggalawe ada di Tuban dan berada di tempat pemakaman Ranggalawe yang sekarang).


Setelah Peristiwa Pemberontakan tersebut, Posisi Jabatan Adipati Tuban menurut catatan yang ada digantikan oleh "Raden Haryo Siro Lawe" (1295-1306). atas kesepakatan dari fihak Majapahit. Sementara itu Kuda Anjampiani dirawat oleh kakeknya "Arya Wiraraja" dan di bawa ke Lumajang setelah mendapat separoh bagian dari wilayah  Majapahit bagian Timur (sesuai janji dari Raden Wijaya kepada Banyak Wide).  Jadi kalau pun toh masih ada "Trah" Ranggalawe, kemungkinan besar malah ada di Lumajang, bagi masyarakat Tuban yang mengaku masih ada "trah" dari Ranggalawe, mohon untuk dikoreksi kembali. (Edan Bagu)


Demikianlah sedikit ulasan Sejarah tentang Ranggalawe, semoga ada manfaat yang bisa kita peroleh dari ulasan cerita sejarah diatas. Akhir kata, marilah kita kembali menelusuri jejak sejarah yang pernah ada, sehingga kesimpangsiuran itu bisa kita ulas kembali dan bisa dijadikan sebagai wacana untuk generasi selanjutnya. Salam dari Saya buat rekan - rekan semua.






The End






Sumber Terkait : Babat Tanah Jawa, Kidung Ranggalawe, Pararaton, dan dari beberapa Referensi Sejarah.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

23 tanggapan untuk "PEMBERONTAKAN RANGGALAWE (THE END)"

Maria pada 05:37 PM, 29-Sep-12

Sejarahnya panjg bgt ea

WONGTUBAN pada 07:25 PM, 29-Sep-12

@Maria,
sejarah campur legenda sis..biggrin

Ema Azahra pada 07:15 AM, 30-Sep-12

kunjungan di pgi hari ema. .nich. . .
biggrin

Winarno pada 10:29 AM, 30-Sep-12

kunjungan balik sob,mksi dah mmpir,smbl ijin nyimak sejarah lol

WONGTUBAN pada 01:08 PM, 30-Sep-12

@Winarno,
silahkan gan..bebas gk ada pajak..biggrin

@Ema Azahra,
mksh sis atas kunjungannya..sukses sllu..

DMC puRple pada 05:25 PM, 30-Sep-12

kunjngan prtama sob.. Wah keren crta'y biggrin

WONGTUBAN pada 06:10 PM, 30-Sep-12

@DMC puRple,
mksh gan ats kunjungannya..moga gk bosen..biggrin

Ema Azahra pada 09:33 PM, 01-Oct-12

Kunjungan balik ema di malam hari yg sunyi ini sob. .
biggrin

WONGTUBAN pada 10:20 PM, 01-Oct-12

@Ema Azahra,
mksh sis..dah tk follow tuh..

KEZZO pada 04:43 AM, 02-Oct-12

hadir nyimak sobt, , ,

jgn lupa mampir. . .

KEZZO pada 04:45 AM, 02-Oct-12

hadir nyimak sobt, , ,

jgn lupa mampir. . .

semanis pada 05:42 AM, 02-Oct-12

kunjungan pagi gan biggrin

Ema Azahra pada 06:32 AM, 02-Oct-12

izini menyimak postingan anda sob. .di pgi hari ini. . .
Awali hari ini dgn silaturahmi. . .
cheesy-grin
Ema tnggu crita yg baru sob. . .

WONGTUBAN pada 12:35 PM, 02-Oct-12

@semanis,
mksh atas kunjungannya..

@Ema Azahra,
msh repot,blm sempat update..ditggu aj.

Zudar pada 12:37 PM, 02-Oct-12

Posting yg menarik gan,, bsa nambah pengetahuan.. kunjungan perdana nih, klu berkenan silahkan mampir di gubuk ane n follback ok !

intan pada 02:52 PM, 02-Oct-12

Kunbal perdana sklian mo lpor follback sukses...Post'a mantab..Sukses

Catatan Kecil pada 06:22 PM, 02-Oct-12

Emg setiap daerah pasti pny sejarah yg melegenda biggrin

irfan markus pada 07:54 PM, 30-Jan-13

nice post sob cool

Budy pada 10:56 PM, 17-Jul-13

critanya sangat mendidik sob. . .
slam dr 0rang LUMAJANG.

fhaikyndz pada 07:20 PM, 04-Aug-13

Ceritanya cocok seperti yang ada pada cerita Tutur Tinular yang diangkat dari sandiwara radio (jadul)

yahya ubaid pada 10:32 PM, 04-Aug-13

mhn ditinjau ulang, benarkah arya wiraraja ayah ranggalawe? ato malah ayah nambi? cek lg kidung ranggalawe ato referensi lainnya

yahya ubaid pada 10:44 PM, 04-Aug-13

arya wiraraja adalah ayah tambi ato nambi, justru dia adalah lawan ranggalawe...yg benar adalah ARYA ADIKARA ayah ranggalawe....jadi klo ada yg mnyebut arya adikara adalah nama lain dr ranggalawe jg trbantahkan....

baratketigo pada 01:20 PM, 21-Sep-13

arya wiraraja ato banyak wide adlh sdr lembu sora, beliau mmg ayah kandung ranggalawe, sdgkan arya adikara adlh ayah dr nambi. kesimpang siuran ini mmg trjadi ketika nambi dianggap membelot dan lari ke lumajang yg notabene adlh wilayah banyak wide. tp yg jelas, ayah nambi bkn banyak wide/arya wiraraja.

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)