PEMBERONTAKAN RANGGALAWE (BAGIAN - I)

Di posting oleh baratketigo pada 10:05 PM, 24-Sep-12

Di: Jejak Sejarah

m.jpgS
ekilas tentang Kerajaan Majapahit. Pada Abad ke-14, Majapahit merupakan kekuasaan besar di kawasan asia tenggara. Peranannya menggantikan kerajaan Mataram/Kahuripan di Jawa bagian Timur dan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, dua negara super power pada masanya. yang pertama adalah negara Agraris, dan yang kedua adalah negara Maritim, kedua ciri tersebut mutlak dimiliki oleh Majapahit sebagai sebuah negara. Para penggagas Majapahit memiliki keinginan untuk membangun kerajaan yang meramu dua basis kekuatan yaitu Maritim dan Agraris. Visi tersebut didukung dengan lokasi Ibukota Kerajaan yang berada di daerah hilir sungai (Brantas) yang strategis dan dapat memudahkan pengawasan perdagangan pesisir sekaligus dapat mengendalikan Produksi pertanian di pedalaman. Selain itu perluasan Cakrawala Mandala ke luar pulau jawa, yang meliputi daerah seluruh Dwipantara, menjadi prioritas berikutnya.


D
emikian sekilas tentang Majapahit, selanjutnya kita akan kembali ke Topik Utama, yaitu tentang Pemberontakan Ranggalawe
Disini saya akan membawa anda untuk kembali ke masa silam, masa pada Abad ke-14, dimana pada masa itu telah megah berdiri sebuah tatanan pemerintahan yang kelak dikemudian hari disebut sebagai cikal bakal berdirinya "Nuswantara". Berikut Kisahnya...

Nama Ranggalawe merupakan nama seorang tokoh yang memegang peranan penting dalam sejarah berdirinya kerajaan majapahit. mulai dari awal pembukaan wilayah Tarik (sebelah barat Sidoarjo), sampai penggulingan kekuasaan "Jayakatwang" (Kediri), berlanjut pengusiran Pasukan Mongol (Tar Tar) , hingga berdirinya Kerajaan yang dikenal dengan nama "Wilwatikta" atau "Majapahit". Dalam Pararaton memang tidak ditulis secara gamblang tentang tokoh yang satu ini, mungkin karena ia bukan dari wangsa Rajasa, tapi bagi masyarakat Tuban, Ranggalawe adalah sosok pahlawan yang sampai kapan pun tidak akan bisa dilupakan, Hanya Pararaton lah yang menyebutnya sebagai "Pemberontak". Negarakretagama tidak menceritakan tentang Pemberontakan Ranggalawe, mungkin karena Mpu Pancaksara/Prapanca adalah seorang Pujangga yang pantang menuliskan peristiwa pemberontakan tersebut karena baginya adalah aib. walau pada kenyataannya Ranggalawe adalah salah satu korban konspirasi politik tingkat tinggi yang disusun oleh seorang Darmadyaksa (Penghulu agama Budha) yang bernama "Halayuda/Mahapati"

Tahun saka 1295 , belum genap dua tahun Sanggrama Wijaya atau Raden Wijaya menjalankan roda pemerintahan, kembali bumi Majapahit bergejolak.
Peristiwa ini diawali dengan Rencana pengangkatan Rakriyan Nambi sebagai Mahapatih Amangkubumi. Selentingan kabar tentang pengangkatan Nambi pun akhirnya sampai ke wilayah Tuban, dimana pada waktu itu Ranggalawe baru menjabat sebagai Rakryan Kanuruhan (Adipati) di Tuban . Tentu saja berita tersebut sangat mengejutkan bagi Ranggalawe, karena menurut pendapatnya Nambi bukanlah orang yang tepat untuk memangku jabatan tersebut. setidaknya masih ada yang lebih pantas menurutnya, masih ada Lembu Sora, Mahesa Pawagal, dan Tokoh - tokoh yang bisa diperhitungkan menurut jasa - jasanya dalam pembangunan majapahit termasuk dirinya. Semanjak menerima kabar tersebut, Ranggalawe merasa tidak enak makan, tidak enak tidur, serba gelisah. yang membuat seisi kadipaten kalangkabut termasuk kedua istrinya (Dewi Martaraga dan Dewi Tirtawati).
Seperti yang tercantum dalam "Kidung Ranggalawe", akhirnya ia pun berangkat ke Majapahit guna melancarkan aksi ketidakpuasannya terhadap keputusan Raden Wijaya.


ss.jpg




M
ajapahit pagi itu sedang disibukkan dengan adanya persiapan untuk sebuah Pasewakan Agung (Pertemuan Besar), yang diselenggarakan setiap satu bulan sekali pada hari Respati (kamis Malam Jumat), guna mempertemukan para pejabat baik yang berada dalam wilayah kota raja Majapahit sendiri, maupun dari luar kotaraja., sekaligus pertemuan guna membahas rencana - rencana yang berhubungan dengan perkembangan Kerajaan. Pagi itu mendung menggelayut diatas Kotaraja Majapahit, namun persiapan untuk Pasewakan berjalan lancar dan rapi. Para Pendeta dan Sesepuh kerajaan mulai berdatangan untuk memenuhi undangan, begitu juga dengan para Ponggawa, Para Senapati, dan Para Darmaputra (Ponggawa Pilihan), telah memasuki ruangan Pasewakan. Tidak lama kemudian, Sri Kertarajasa Jayawardana (Raden Wijaya) dikawal barisan Bhayangkara telah pula memasuki ruang Pasewakan, untuk selanjutnya sidang pun dimulai. Sidang kali ini adalah sidang untuk membahas satu hal penting, yaitu tentang Pengangkatan Rakriyan Nambi sebagai patih Amangkubumi. Hadir dalam Persidangan itu diantaranya Lembu Sora, Mahesa Anabrang, Mahesa Pawagal, Mahapati, dan juga Nambi sendiri.
Pada saat persidangan sedang berlangsung, tiba - tiba prajurit penjaga pintu gerbang melaporkan bahwa Ranggalawe meminta diperkenankan untuk menghadap dalam pasewakan. dapat dibayangkan suasana yang terjadi saat itu, karena selama ini Ranggalawe maupun utusan dari Tuban sama sekali tidak pernah mengikuti Pasewakan - pasewakan baik yang sifatnya Intern maupun Formal. Disamping memang Tuban dianggap sebagai wilayah Perdikan (wilayah yang dibebaskan), juga atas Permintaan Raden Wijaya sendiri bahwa Tuban tidak harus selalu hadir dalam berbagai pertemuan yang diadakan di Majapahit pada waktu itu mengingat jasa - jasa dari Ranggalawe.
kehadiran sang Adipati dari Tuban Siang itu membuat suasana sedikit tegang, karena semua tau sikap dan watak dari Ranggalawe, seorang yang Berani, jujur, tegas, dan selalu Terbuka dalam menentukan sikap, tanpa tedeng aling - aling. namun sikap keanggungan dari Raden Wijaya seakan bisa menenangkan gejolak suasana yang ada. Dengan tegas, Ranggalawe menyatakan ketidakpuasannya terhadap keputusan yang di ambil oleh Raden Wijaya. Hal ini mengejutkan semua fihak termasuk Lembu Sora selaku Pamanda Sang Adipati, begitu juga dengan Raden Wijaya sendiri, walaupun telah menduga maksud kedatangan Ranggalawe sebelumnya namun kemarahan sangat jelas terlihat dari mimik muka sang Raja. Perseteruan sengit pun terjadi yang memicu amarah dari beberapa fihak atas sikap Ranggalawe yang dianggap lancang terutama pada fihak Nambi. Namun akhirnya Lembu sora berhasil membujuk Ranggalawe dan memintanya keluar dari Pasewakan. Sementara dalam ruang sidang suasana masih diselimuti ketegangan , diluar Ranggalawe melampiaskan kekesalannya dengan mengobrak - abrik halaman istana tanpa seorang pun yang berani mencegahnya.
Akhirnya Lembu Sora kembali menenangkannya, dan karena masih menghargai sang paman, Ranggalawe pun mau meninggalkan istana. pada saat keluar dari pintu gerbang, ia pun mengeluarkan ancamannya bahwa pasukan Tuban akan memporakporandakan Majapahit apabila pengangkatan Nambi sebagai Patih Amangkubumi tetap dilaksanakan.







To be Continue .. Bagian II





Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

3 tanggapan untuk "PEMBERONTAKAN RANGGALAWE (BAGIAN - I)"

Dewantara pada 03:33 PM, 25-Sep-12

Hadir Gan, kunjungan sore.. smile

WONGTUBAN pada 06:59 PM, 25-Sep-12

@Dewantara,
Siip gan..met sore smile

AL MATIN pada 10:40 PM, 10-Jun-13

parkir biggrin

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)